Pahamilah Ketentuan Hak Asuh Anak yang Pantas

Pahamilah Ketentuan Hak Asuh Anak yang Pantas – Saat ini sudah semakin banyak pasangan suami istri yang memiliki masalah dan mereka pikir tidak ada lagi jalan untuk keluar dan memilih bercerai. Perceraian yang ditempuh oleh kedua orangtua seharusnya tidak boleh mencederai pemenuhan terhadap hak anak yang juga diatur oleh negara melalui undang-undang hak asuh anak lewat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam Ketentuan Umum Pasal 1 poin 11 dijelaskan bahwa kuasa asuh adalah kekuasaan orangtua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan, bakat, serta minatnya.

Pahamilah Ketentuan Hak Asuh Anak yang Pantas

Hak asuh anak diberikan kepada ibu
Di Indonesia, hakim di pengadilan agama cenderung memberikan hak asuh anak setelah bercerai kepada ibunya, terutama bagi anak child  yang masih berusia di bawah umur. Bagi umat Muslim, hal ini sudah sejalan dengan ketentuan yang terdapat di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 105 yang berbunyi sebagai berikut:
Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.
Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya.
Baik mumayyiz atau bukan, bapak dari anak tersebut tetap berkewajiban membiayai pemeliharaan dan pendidikan sang anak. Meski dikenal sebagai istilah Islam, mumayyiz merupakan terminologi hukum positif di Indonesia yang diartikan sebagai anak yang telah akil baligh atau sudah dapat membedakan baik dan buruk.
Beberapa ulama berpendapat mumayyiz merupakan anak yang berusia mulai dari 7 tahun. Namun, ada pula ulama yang mengatakan anak yang dikatakan sebagai mumayyiz berusia 9 tahun bagi perempuan dan 12 tahun bagi laki-laki atau maksimal 15 tahun.

Syarat hak asuh anak jatuh kepada ayah
Hak asuh anak jika istri menggugat cerai dapat jatuh ke tangan ayah dalam beberapa kondisi. Pemberian hak asuh anak setelah bercerai kepada sang ayah bukanlah hal yang aneh. Hakim bisa saja mengambil keputusan demikian berdasarkan pertimbangan kemaslahatan anak yang dipengaruhi beberapa hal, seperti:
Persetujuan bersama
Jika ibu dan ayah sudah membuat kesepakatan bahwa hak asuh anak akan diberikan pada pihak laki-laki setelah perceraian, maka hakim bisa mengabulkan permohonan tersebut.
Keterangan saksi
Jika ada saksi yang memberatkan pihak ibu dalam memperoleh hak asuh anak, hakim bisa saja memberikan hak tersebut pada sang ayah.
Ibu tidak bertanggung jawab
Salah satu penyebab ibu kehilangan hak asuh anak adalah saat hakim melihat potensi sang ibu dapat menelantarkan anaknya. Pada kondisi ini, hakim bisa menetapkan sang ayah untuk menjadi pemegang hak asuh anak dalam perceraian.
Selain itu, masih banyak penyebab ibu kehilangan hak asuh anak, mulai dari perilaku buruk ibu, sering selingkuh dengan lelaki lain, menikah lagi, atau murtad (pindah agama). Inilah salah satu alasan mengapa hak asuh anak dalam perceraian karena istri selingkuh dapat diberikan kepada ayah.

Author: superadmin

I am an article writer about online games and as a sports fan. You will see it covering some good stories and news to tell.